News Article :

Home » » Candrabhirawa (kisah Narasoma) :

Candrabhirawa (kisah Narasoma) :

Candrabhirawa (kisah Narasoma) :
Kisah ini berawal dari seorang resi muda yang telah berhasil membantu para dewa dalam menumpas kerusuhan bangsa Jin Banujan di kahyangan Suralaya. Tersebutlah Bambang Anggana Putra dari pertapaan Argabelah, putra kedua Resi Jaladara dari pertapaan Dewasana dengan dewi Anggini, keturunan Prabu Citragada, raja negara Magadha. Atas jasa-jasanya itulah Anggana Putra mendapat anugerah dari Batara Guru, yaitu diperkenankan menikahi salah seorang bidadari kahyangan Maniloka.


Di istana Jonggring Salaka, kahyangan Suralaya Maniloka, para dewa sesangga jawata duduk di paseban agung menunggu sabda Raja Triloka. Sementara di dampar kencana Mercupunda, Sanghyang Tengguru atau juga yang dikenal dengan nama Sanghyang Manikmaya, Jagatnata, Batara Guru, bersabda.
"Anggana Putra, sesuai janjiku padamu, atas jasa-jasamu dalam menumpas kerusuhan di kahyangan Suralaya, maka aku akan menganugerahkanmu seorang bidadari untuk kau persunting. Pilihlah olehmu salah seorang diantara para bidadari Maniloka ini".

Mendapatkan anugerah dan penghormatan dari raja Tribuana, Bambang Anggana Putra sangat suka cita hatinya, ia merasa tersanjung atas penghormatan yang telah diberikan kadewatan kepadanya, penghormatan dimana ia diperkenankan bebas memilih sendiri bidadari yang akan dijadikan istrinya. Bambang Anggana Putra adalah seorang yang berbudi luhur, jujur, dan polos wataknya, ia salah seorang yang memiliki darah putih, hanya saja dibalik kepribadian-kepribadiannya yang baik, sebagai manusia tetap ada satu kelemahan yang dimilikinya, yaitu sifat jenakanya yang terkadang tidak dapat menempatkan diri, ia sangat suka bersenda gurau yang pada akhirnya menyeret dia pada satu masalah yang merenggut hari-hari depannya.

"Ampun pukulun... Sungguh hamba sangat bahagia mendapat anugerah pukulun, seperti yang pukulun tawarkan kepada hamba memilih salah seorang bidadari Maniloka untuk dipersunting, namun melihat para bidadari penghuni Maniloka ini yang semuanya berparas jelita membuat hamba tidak mampu menentukan pilihan, akan tetapi walaupun begitu, sesungguhnya hamba pernah mengagumi salah seorang diantara mereka".

"Siapakah gerangan Anggana Putra? Aku telah memberimu kesempatan untukmu”.

"Jika pukulun tidak keberatan, pilihan hamba jatuh pada dewi Uma, bidadari yang selama ini hamba kagumi".

Seperti ada halilintar menghantam dampar kencana Mercupunda, tubuh Batara Guru bergetar, mukanya merah padam, hatinya menjadi panas sepanas kawah Candradimuka. Semua para dewa terkesiap mendengar ucapan Bambang Anggana Putra.

"Samudra madu kupersembahkan untukmu, namun sebaliknya kau memberi cawan yang berisi racun kepadaku. Lancang ucapmu, Anggana Putra". Batara Guru tidak dapat menahan amarahnya, ia sangat tersinggung dengan ucapan Anggana Putra yang telah dianggap menodai kewibawaannya sebagai Raja Tribuana. Betapa tidak, dewi Uma adalah kameswari Suralaya, ia adalah kekasih hati dan permaisuri Sanghyang Guru sendiri.

Melihat gelagat yang kurang mengenakan, Anggana Putra segera menjura hormat.
“Ampun pukulun… Maafkan ucapan hamba tadi, sebenarnya hamba tidak bermaksud menghina kewibawaan paduka, hamba hanya bermaksud bersenda gurau karena pukulun menyuruh hamba memilih salah seorang bidadari penghuni Maniloka tanpa pengecualian, maka hamba mengguraui pukulun, sebab dewi Uma sendiri adalah bidadari penghuni Maniloka. Mohon pukulun memafkan sifat jenaka hamba”.

Mungkin mudah memadamkan api yang sedang membakar, tetapi sangat sulit meredakan api kemarahan dalam hati. Kemarahan tidak pernah timbul tanpa alasan, walau alasan itu tidak selamanya benar. Dan alasan apapun yang dikatakan Anggana Putra tidak mampu meredam kemarahan Sanghyang Guru.
"Sifatmu sangat tidak terpuji, kau tidak memiliki tatakrama. Hai putra Jaladara! Kau telah menodai kewibawaanku, sungguh tidak pantas seorang resi sepertimu memiliki sifat demikian, kau tidak ubahnya seperti Duruwiksa (raksasa yang bertabiat biadab)”.
Sekecap sabda Raja Triloka, sabda yang dilambari sir aji kemayan seketika merubah wujud Bambang Anggana Putra. Sirna kerupawanannya berubah bentuk menjadi raksasa. Para dewa sesangga jawata geger melihat perubahan wujud Bambang Anggana Putra.

"Ampun pukulun... Mohon pukulun mempertimbangkan kesalahan hamba dengan hukuman yang pukulun jatuhkan kepada hamba. Mohon kembalikan wujud hamba". Anggana Putra merasa sedih melihat perubahan dirinya.

"Ludah telah dibuang pantang kujilat kembali. Sabdaku adalah hukum. Pulanglah kau ke pertapaanmu. Sesuai janjiku, aku akan memberikan seorang bidadari untukmu, tetapi aku akan menunjuk dewi Darmastuti sebagai istrimu, ia akan menemani hari-harimu di Argabelah, namun kelak jika dewi Darmastuti melahirkan seorang anak, maka ia akan kembali pulang ke kahyangan”.

Batara Narada tertegun mendengar sabda Raja Tribuana, ia sangat prihatin dengan keadaan Bambang Anggana Putra. "Oladalaa... Adi Guru, tidak cukupkah hukuman yang kau berikan? Setelah wujudnya kau rubah menjadi raksasa, kebahagiaannya pun kau renggut. Pertimbangkan kebijaksanaanmu. Jagalah hati dan pikiranmu dari nafsu amarahmu agar sabdamu tidak selalu bertindak lebih cepat dari pikiranmu”.

Batara Guru menganggap semuanya sudah terlanjur, tidak dapat dirubah lagi. Anggana Putra sangat sedih, ia tidak menyangka akan mendapat hukuman sedemikian rupa. Setelah melakukan penghormatan yang terakhir kalinya, Anggana Putra lalu pergi meninggalkan kadewatan Suralaya menuju Argabelah.

Sepeninggalnya Bambang Anggana Putra, ternyata Batara Guru masih menyimpan dendam. Diam-diam ia masuk ke dalam perut bumi, menembus Sapta Pertala (lapisan bumi ketujuh). Disana ia mengambil selongsong kulit Raja Naga Hyang Antaboga yang mengalami pergantian kulit setiap 1000 tahun sekali. Dengan kesaktiannya selongsongan kulit Raja Naga itu dicipta menjadi Taksaka (naga) yang sangat sakti mandraguna. Saktinya Taksaka karena Batara Guru telah memasukan sukma Candrabhirawa yang telah ditangkapnya saat melayang-layang mencari penitisan. Taksaka lalu dititahnya untuk menghadang perjalanan Bambang Anggana Putra dengan maksud membinasakannya. Taksaka segera melesat secepat kilat tatit menyusuri lapisan-lapisan bumi, mengejar Bambang Anggana Putra.

Tidak berapa lama ketika Anggana Putra masih melayang di udara hendak dalam perjalanan pulang, Taksaka yang memiliki kecepatan luar biasa telah sampai mengejarnya, ia melesat cepat keluar dari dasar bumi dan segera menyergap tubuh Bambang Anggana Putra. Tubuh Anggana Putra diterkam dan dibanting dari atas udara. Anggana Putra luruh jatuh menghantam bumi, menghancurkan bebatuan cadas gunung. Tidak sampai disitu, Takasaka kembali memburu Anggana Putra yang saat itu segera bangkit. Secepat tatit Taksaka kembali menyerangnya dengan menyemburkan wisa upas/racun dan api yang keluar dari mulutnya. Api berkobar diseantero pertarungan mereka, wisa racun melepuh meleburkan batu-batu dan tanah yang terkena semburannya. Akan tetapi, racun-racun itu tidak mampu mematikan tubuh Anggana Putra, api pun tidak mampu membakarnya. Bambang Anggana Putra digjaya, tubuhnya tidak cidera sama sekali.  
bersambung    : untukkelanjutannya klik di sini .


sumber : kisah cerita wayang 

0 komentar:

Post a Comment

 
Support : Copyright © 2014 Catatan Belajar Blog | Tips Dan Trik - All Rights Reserved
Blog creatif By : Wildan Taupiq | Proudly powered by : Blogger